Get this widget!

Jumat, 06 Januari 2017

Traveler's Diarrhea

As one of tropical paradise island has many things to offer beautiful scenery, unique artwork, and classical tradition, it make as international destination. Either enjoy of beautiful view, tourist from various country in the world come to Bali to taste some special Asian food also. Some of traveler usually had diarrhea, it’s called by “Bali Belly” the Balinese people named.

Sumber Foto: Hello Sehat
Bali Belly is known as traveler’s diarrhea. This illness can occur any time during the trip, even after the person gets home. It is self limited disorder, no specific treatment and need until four days for recovering. On the other way, its complication is dehydration which could be developed to other serious condition. There are some symptoms of traveler’s diarrhea; abdominal bloating, cramps and pain, nausea, urgency to go to the toilet, loose, watery stools passed frequently, mild temperature and general malaise (weakness or discomfort)

Consuming contaminated food is a major cause of traveler’s diarrhea. It caused by virus, parasite or bacteria. Escherichia coli (E. coli) Bacteria normally found of our intestine. There are many varieties of E. coli. If we infected with new varieties, the intestine reacted to produce   substances of toxic. The toxic will be able to interfere intestine’s ability to absorb the water and increased intestinal motility, it occurs in diarrhea.   
Some high risk foods that should be avoided include:
Ø  Raw and peeled fruits and vegetables
Ø  Green leafy undercooked meats of any kind.
Ø  Seafood, particularly raw or inadequately cooked shellfish or fish
Ø  Sauces and mayonnaises
Ø  Unpasteurized dairy foods, including milk
Ø  Food from street vendors
Ø  Any hot food that has been left long enough to cool
Ø  Food buffets

The prevention of traveler diarrhea is to avoid of some high risk foods and contaminated food. There is no vaccine needed. But, there are some things that you have to do if get diarrhea.
Ø  Take plenty of water or take oral rehydration drinks (i.e. oralit, Pocari Sweat) to replace lost salts and minerals
Ø  Probiotic (i.e. yakult, yogurt) is beneficial yeast that can help maintain natural flora in your intestines to remedy and prevent uncomfortable diarrhea
Ø  Anti-nausea or anti vomiting drugs
Ø  Avoiding anti-diarrhea drugs if has high fever. It because passage of stools will only keep a bacterial infection and its poisons inside the body for longer.

Most cases of diarrhea without treatment. However, severe diarrhea can cause dehydration, which can be life threatening, they must call doctor. There are signs and symptoms of diarrhea that you seek medical attention
Ø  If diarrhea lasts longer than three days
Ø  If blood, mucus, or worms are seen in stool
Ø  If the person has pain in the abdomen or rectum
Ø  If the person has high temperature (>38,5 0C)
Ø  If a severe headache develops
Ø  If the person has signs of water loss including dry mouth, excessive thirst, little or no urination
Ø  If the person’s immune system is weakened by another condition such as HIV or cancer
Ø  If the symptoms do not improve when the individual drinks fluid
Ø  Vomiting prevents fluid intake
Antibiotics provide no protection against of viruses and parasite. So, taking antibiotic is not always best solution for diarrhea as people thinking. Because doing so, not indication for antibiotic it means that will contribute to the development of antibiotic-resistant bacteria.  Doctor suggest by taking bismuth subsalicylate (Corosorb, Attapulgit, Licoped) which has been shown to decrease the intensity of diarrhea. However, do not take it more than three weeks.



Sabtu, 14 November 2015

“Status” Internship, Sebuah Dilema Dokter Indonesia



Sumber: thejavanomadspot.com

Lagi, satu dokter meninggal!!! Yaa, dialah dokter internsip, dr. Dionisius Giri Samudra yang menjalankan tugas internship di Kepulauan Aru, Maluku. Berita ini tentu membuat histeris kedokteran di Indonesia. Salah satu dokter internship yang mengabdi di daerah pelosok kepulauan Aru meninggal terserang encephalitis dan saat itu fasilitas rumah sakit terbatas sehingga harus dirujuk akan tetapi ada kendala dalam hal biaya evakuasi dan transportasi.
Lalu, bagaimana tanggapan Prof. Nila Djuwita Anfasa Moeloek, Menteri Kesehatan Indonesia kita? Adapun tanggapan Ibu Menkes yang mencuat di beberapa media sosial. Pernyataannya sangat menggelitik telinga dan mengoyak hati para dokter di Indonesia, khususnya dokter internship. Pertama, dr. Andra meninggal bukan karena soal fasilitas rumah sakit. Kedua, dokter internsip adalah mahasiswa, dan ketiga, dokter internsip adalah dokter yang sudah semester 5, keempat, gaji dokter internhip 6 juta perbulan. Hemm, sepertinya perlu diklarifikasi pemberitaan ini. Pemerintah yang membuat sistem, namun pemerintah belum memahami apa itu program dokter internship. Pemerintah menciptakan sistem berharap hasil maksimal namun upaya minimal.
Menurut Undang–Undang No. 20 Tahun 2013 tentang Pendidikan Kedokteran, Program Internship merupakan program magang bagi dokter yang baru menyelesaikan masa pendidikan profesi. Tujuannya adalah untuk menerapkan kompetensi yang diperoleh selama pendidikan secara terintegrasi, komprehensif, mandiri serta menggunakan pendekatan kedokteran keluarga dalam rangka pemahiran dan penyelarasan antara hasil pendidikan dengan praktik di lapangan. Selain itu, program internship ini akan menjamin pemerataan dokter terdistribusi ke seluruh wilayah Indonesia. Mereka yang disebut peserta program internship adalah mereka yang lulus ujian kompetensi dokter, disumpah dokter, dan sudah memiliki Surat Tanda Registrasi (STR) dari Konsil Kedokteran Indonesia (untuk mengurusnya butuh waktu minimal 2-3 bulan) namun belum memiliki kewenangan untuk praktik mandiri. Untuk memiliki Surat Ijin Praktik (SIP), mengikuti program internship satu tahun merupakan salah satu persyaratan mutlak. Kemudian para dokter ini akan magang di rumah sakit selama 8 bulan, dan 4 bulan di puskesmas. Akan tetapi, periode ini keberangkatan internship sering tertunda karena pemerintah belum siap masalah dana dan persiapan wahana. Dari pengalaman saya sudah disumpah dokter pada bulan Januari, saya berangkat internship bulan Juni. Dan malah lagi, rekan sejawat saya yang disumpah bulan Maret 2015, berangkat internship pada bulan Desember 2015. Akibatnya, ribuan dokter mengganggur.

Program dokter internship bukanlah program baru. Di Indonesia, program ini memang baru dijalankan (pertama kali dilaksanakan oleh dokter lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Andalas Padang), terkait dengan adanya perubahan kurikulum Inti Pendidikan Dokter Indonesia (KIPDI) III2. Salah satu perubahannya adalah dengan diadakannnya suatu sistem pembelajaran yang disebut PBL (Problem Based Learning). Para dokter ini diharapkan akan menjadi dokter layanan primer berorientasi dokter keluarga. Dan untuk mengimplementasikan rencana ini, dibentuklah suatu program bernama internship, sesuai peraturan menteri kesehatan RI. No. 299/Menkes/Per/II/2013. Di Negara lain, seperti Amerika Serikat, program ini sendiri sudah dimulai sejak akhir abad ke–19, dan terus mengalami penyesuaian seiring berjalannya waktu (Kompasiana, 2013).

Program internship adalah program bagus, fase pematangan diri menjadi dokter sesungguhnya dan tentunya membuat para dokter baru lulus agar labih terasah praktiknya di lapangan. Namun, di Indonesia bukan dokternya yang belum siap, pemerintahpun lebih tidak siap lagi. Dimulai dari terlambatnya jadwal keberangkatan dokter internsip, situs web portal internsip bermasalah, jumlahnya peserta tidak sesuai dengan kapasitas wahana, sehingga ribuan lulusan dokter menganggur, serta kendala tunjangan hidup dokter yang minim (gaji dokter internship Rp2.466.000/bulan, sudah terpotong pajak), asuransi kesehatan yang tidak terpenuhi, dan satu lagi kurikulum internsip masih belum jelas.
Contoh lainnya dari sisi kejelasan kerja antara peserta internship dengan dokter pendamping dan dokter senior yang berada di wilayah kerja yang sama. Tidak ada pembagian tugas yang jelas dan tertulis antara internship dan pendamping. Tugas dan tanggung jawab antara kedua belah pihak seperti terus berada dalam wilayah abu-abu. Tak jarang, internship dijadikan tempat untuk melepaskan tanggung jawab, dibebani kerja tambahan dengan dalih dokter internsip adalah dokter baru tamat yang masih butuh banyak pengalaman. Walaupun tidak semua pendamping dan dokter senior yang berbuat demikian. Terkadang karena ada dokter internsip, dokter senior sering tidak berada di tempat dan otomatis semua pekerjaan yang harusnya lakukan dokter senior dilimpahkan ke dokter internsip. Misalnya di Jepang, internship dibimbing penuh oleh konsulen di bagian yang bersangkutan. Misalnya, dibagian jantung dan pembuluh darah, penanganan pasien dibagi berdasarkan tim, dimana satu tim terdiri dari 1 orang dokter muda, 1 orang junior residen, 1 orang senior residden, dan 1 orang spesialis/konsulen yang bertanggung jawab terhadap lebih kurang 5-10 orang pasien. Dalam melakukan manajemen pasien, junior residen tidak dilepas begitu saja, tidak dibiarkan dalam kebingungan (Kompasiana, 2013). Seperti halnya, misal di Puskesmas A, internsip jaga poli 6 hari kerja seminggu, tanpa jaga malam, sedangkan di Puskesmas B, internship 3 hari kerja di poli tapi ada jaga malam,dan sebagainya. Ada lagi, misalnya internship di wahana A, mengharuskan presentasi dan menulis laporan 6 program puskesmas, 5 kasus di rumah sakit, sedangkan wahana B, tugasnya hanya melaksanakan 1 laporan kasus rumah sakit dan 1 mini project, itupun dari dana dokter internsip untuk mini project (jika dari pemerintah daerah tidak menyanggupi memfasilitasi mini project). Inilah yang menyebabkan dokter internship kebinggungan dengan sistem, kadang bisa menimbulkan kecemburuan antar wahana internship.

Dari uraian masalah di atas, tentunya akan terjadi penolakan program internship oleh semua kalangan dokter di Indonesia. Diharapkan program ini membantu para dokter baru lulus lebih berkompeten di lapangan, tapi malah implementasinya tidak sesuai yang diekspektasikan.

Sumber
  1. http://www.kompasiana.com/drrizkyadriansyah/program-internship-cara-pemerintah-memaksa-dokter-dibayar-murah_54f77e37a33311256f8b45d5
  2. http://www.kompasiana.com/eijiroedison/internship-dilema-dokter-baru-di-indonesia_5520008da33311792bb67328
  3. http://makassar.tribunnews.com/2015/11/11/dokter-muda-ini-dilaporkan-meninggal-dunia-karena-sakit-saat-tugas-dan-tak-punya-biaya-evakuasi

Minggu, 08 November 2015

Atasi Stres dengan Tehnik Respon Relaksasi



Sumber: www.yogawoman.com
Setiap orang pernah mengalami stress, baik masalah pekerjaan, keluarga, pacar, atau masalah lainnya. Stress kronis sangat berpengaruh terhadap kesehatan dan menimbulkan berbagai masalah bagi tubuh misalnya, gangguan pencernaan, hipertensi, sakit kepala (tension headache), dan insomnia (gangguan tidur). Stress juga menyebabkan seseorang mudah sakit akibat daya tahan tubuh melemah.

Stress memberi alarm ke bagian otak yaitu hipotalamus, maka ia akan memerintah kelenjar adrenal untuk melepaskan hormon adrenalin dan kortisol. Biasanya kedua hormon ini mengontrol kerja sistem inflamasi dan sistem imun agar tidak overaktif. Namun jika kedua hormon ini dilepaskan secara berlebihan akibat stress dan ansietas, maka akan terjadi penekanan terhadap sistem imun sehingga tubuh lebih mudah terinfeksi, dan lamanya proses penyembuhan luka. Stress kronis juga dapat menyebabkan gangguan siklus menstruasi, peningkatan denyut nadi dan tekanan darah sehingga terjadi diameter pembuluh darah semakin menyempit.

Salah satu direktur Institut Benson Henry - Mind Body Medicine, Boston, Doktor Gregory L. Fricchione ketika diinterview mengatakan kondisi stress kronis membuat tubuh melepaskan hormon adrenalin dan nor-adrenalin juga dan sistem saraf simpatis dimana keduanya akan meningkatkan denyut nadi jantung, pernapasan, tekanan darah, dan sistem kerja metabolism tubuh. Keadaan ini dikenal dengan istilah “the fight or flight response.” Respon Relaksasi (Relaxation Response) Hebert Benson merupakan cara dalam menetralisir efek toksik dari stress kronis. Adapun yang dapat dilakukan untuk mendapatkan respon relaksasi, yaitu:
a.  Gunakan satu kata, frase, atau mantra, atau mungkin fokus dengan pernapasan selama latihan
b.  Lakukan dalam posisi dan tempat yang membuat Anda nyaman
c.   Tutuplah mata Anda
d.   Lemaskan seluruh otot Anda
e.   Bernapaslah pelan-pelan dan ucapkan satu kata yang Anda ingin fokuskan ketika menghela napas
f.    Pertahankan posisi pasif. Jangan khawatir apapun yang Anda akan lakukan atau bahkan terlintas pikiran lain, bicaralah dalam hati “baiklah” lalu kembali ke kata yang Anda fokuskan.
g.     Lakukan selama 10 sampai 20 menit
h.     Kemudian bukalah mata, semenit kemudian barulah mulai berdiri.
i.        Lakukan latihan ini 1-2 kali sehari
 
Respon Relaksasi akan terasa manfaatnya setelah melakukan latihan rutin selama 1-2 bulan. Namun, bila Anda melakukannya lebih dari setahun maka Anda mampu mengontrol emosi dan Anda lebih tenang.

Meditasi dengan tehnik yoga merupakan tradisi tua India sejak ribuan tahun yang lalu. Penelitian dr. Anand di New Delhi menunjukkan bahwa dengan meditasi yoga dapat menurunkan konsumsi oksigen, metabolisme dalam tubuh dan sistem kerja saraf simpatis. Lalu bagaimana mengatasi stres dengan usia anak-anak? Menurut Doktor Gregory L. Fricchione, stress pada anak dapat kita lihat dari perilakunya tidak seperti biasanya, misalnya lebih pendiam, cepat tersinggung, mudah marah, dan menyendiri. Masalah itu dapat diatasi dengan memberi perhatian dan menjadikan Anda sebagai sahabat baiknya. Dengan memberi perhatian pada anak oleh orangtua akan membantu menstabilkan emosi anak.

"Brain Training Games" Lebih Efektif pada Usia Tua?


Sumber: www.gamesonline.com
Berbagai games di Android biasanya banyak dimainkan anak-anak sampai usia dewasa, lalu bagaimana dengan usia tua? 
Semakin meningkatnya usia, semakin menurun kemampuan jaringan untuk mempertahankan struktur dan fungsi normalnya secara perlahan-lahan. Karena itu, beberapa peneliti di dunia melakukan penelitian tentang pengaruh kebiasaan main game khususnya brain training games terhadap usia tua. 

Permainan brain training  memberi manfaat besar bagi skill kognitif usia tua, seperti dinyatakan dalam acara BBC TV’s Bang Goes the Theory. Sekitar 7000 orang berusia diatas 50 tahun berpartisipasi dalam sebuah eksperimen selama 6 bulan. Semua peserta memainkan brain training games 10 menit setiap harinya. Kemudian peneliti membandingkan hasil test kognitif mereka saat sebelum eksperimen, 3 bulan eksperimen, dan setelah 6 bulan eksperimen. Hasil test menunjukkan bahwa skill kognitif  mereka jauh lebih baik daripada mereka yang tidak terbiasa bermain brain training game. Namun, the Journal of Post Acute and Long Term Care Medicine menemukan bahwa brain training games lebih efektif pada usia diatas 50 tahun karena selain meningkatkan skill kognitif, juga dapat mencegah dimensia. Adapun games yang dapat dimainkan untuk usia tua misalnya cooking, shopping, beauty shop, driving skills, atau hunting. 


by Ron White

Beberapa peneliti di Tohoku University, Jepang, kebiasaan brain training games terhadap perkembangan kognitif ada hubungannya dengan perkembangan prefrontal korteks otak. Bagian otak ini berperan dalam kemampuan berbahasa, daya ingat, kemampuan membuat konsep dan intelegensi. Sedangkan di California, melakukan uji coba pemasangan beberapa elektroda pada cap kepala orang tua yang sedang bermain games di komputer. pemasangan elektroda ini untuk melihat aktifitas otak ketika peserta bermain games. Ternyata aktifitas otak bagian prefrontal korteks lebih dominan sebagai controlling decision saat bermain games driving (seperti yang dijelaskan dalam video).